KENCANISTIK: Apakah Cinta Melihat Fisik?
“Just an ordinary girl who will love you just the way you are.”
Sejenak kutatap kalimat yang barusan kutulis di kolom deskripsi akun kencan online-ku. Bullshit banget, ya? Kalau nanti aku bertemu dengan orang yang tidak sesuai dengan yang kupikirkan, apa kalimat ini masih berlaku? Ah, sudahlah, yang penting aku harus memulainya.
---
Di abad ke-22, aturan kencan sangat ketat. Setiap orang hanya diperbolehkan berkencan saat berusia 20 tahun dan harus dimulai dari aplikasi kencan online, “Kencanistik”. Jadi, masa perkenalan dan PDKT hanya melalui aplikasi tersebut.
Satu kata yang terucap saat Ibu menceritakan tentang Kencanistik ini beberapa minggu lalu: gila.
“Itulah seninya, Nay. Kamu akan mengetahui, apakah cinta melihat fisik atau tidak,” ucap Ibu sambil mengedipkan matanya.
Akhirnya, aku pun membuat akun di Kencanistik.
---
Sebulan kemudian…
Sudah ada ratusan lelaki yang mengajakku ngobrol di Kencanistik ini, bahkan beberapa di antaranya sudah mengajakku untuk bertemu. Semuanya terasa biasa saja menurutku, kecuali si Yos.
Di laman profilnya, dia menulis seperti ini, “Hanya cinta sejati yang bisa melihatnya”. Foto yang digunakannya sebagai profile picture juga terlihat menarik: kemeja putih yang lengannya digulung dan pantai sebagai latar belakangnya.
Setelah 30 hari ‘bersamanya’, Yos mengajakku bertemu. “Kalau kamu merasakan hal yang sama denganku, kita harus bertemu. Kamu harus melihatku yang sebenarnya. Selanjutnya, terserah kamu,” begitu ucapnya.
Ia mengajak bertemu di sebuah taman kota yang ramai pengunjung. Kupikir, tidak ada salahnya untuk berjumpa dengannya secara langsung. Lagian, tempat yang dipilih tidak sepi dan dekat dengan rumahku. Maka, siang itu, aku mencari sosoknya di taman sesuai dengan penjelasannya di chat. Lalu, aku menemukannya. Tapi, benarkah itu dia? Kudekati lelaki itu dan menyapanya. “Yos?”
Ketika pertanyaanku dijawab dengan anggukan, aku kaget karena Yos yang asli tidak segagah di foto. Kaki kirinya terbuat dari rangka besi.
“Hai, Nay. This is the real me,” ucapnya sambil berdiri. Sungguh, inikah yang Ibu maksudkan?
---------
*note: tulisan ini pernah aku masukan ke sweek.com (ini semacam aplikasi Wattpad gitu. Cuma karena aplikasi ini udah gak ada dan websitenya juga, jadi kumasukin sini supaya ada jejak digitalnya.

0 comments